Obsessive-compulsive Disorder/ Gangguan Obesif-kompulsif

wash hand    lock door

Apakah anda pernah menonton film “The Aviator” atau “As Good As It Gets”? Pada film tersebut, Leonardo Di Caprio dan Jack Nicholson berperan sebagai pemeran utama yang memiliki tingkat higienitas yang sangat tinggi, bahkan terlalu tinggi sampai sering mencuci tangan berulang-ulang. Sebenarnya kebiasaan mencuci tangan adalah hal yang baik untuk dilakukan, namun jika dilakukan berlebihan pastinya dapat menimbulkan stres dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Mencuci tangan berlebihan seperti pada kedua film ini merupakan contoh gejala yang paling sering ditemukan pada penderita Obsessive-compulsive Disorder (OCD)

Obsessive-compulsive Disorder, atau gangguan obsesif-kompulsif, merupakan suatu gangguan cemas yang ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi. Obsesi adalah pikiran-pikiran yang tidak terkontrol dan tidak diinginkan, namun muncul berulang-ulang menghantui anda. Pada umumnya, penderita menyadari bahwa pikiran tidak masuk akal, namun tidak dapat menghindari dan lepas darinya. Sedangkan kompulsi ialah perilaku atau ritual yang dilakukan berulang-ulang dengan terpaksa, biasanya dilakukan untuk mengurangi kecemasan terhadap sesuatu. Misalnya penderita memiliki ketakutan akan kuman, maka penderita akan sering mencuci tangan berulang-ulang. Namun, kegiatan berulang-ulang tersebut sebenarnya tidak dapat menghilangkan rasa cemas penderita, bahkan akan muncul kembali dan bertambah parah. Penderita akan semakin merasa menderita dengan bertambah parahnya gejala karena rasa cemas yang bertambah parah pula disertai dengan kegiatan/ritual yang memakan banyak waktu dan uang.

Di Amerika, OCD terjadi pada 2.3% kelompok umur 18-54. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa OCD terjadi sepanjang hidup penderita, namun ada juga yang menyebutkan bahwa OCD dapat membaik dengan berjalannya waktu. Penyebab OCD sampai saat ini belum jelas, namun beberapa ahli menyebutkan bahwa faktor biologis dan psikologis memegang peranan yang penting. Terdapat dugaan bahwa serotonin, salah satu neurotransmitter di otak, menjadi faktor penyebab OCD.

Untuk menentukan bahwa seseorang mengidap OCD, maka harus merujuk pada suatu kriteria yang berlaku. Berdasarkan PPDGJ-III, Gejala-gejala obsesif-kompulsif  harus mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Harus disadari sebagai pikiran atau implus dari diri sendiri.
  2. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
  3. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas).
  4. Gagasan, bayangan pikiran, atau implus tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).

Contoh-contoh gejala yang sering dijumpai di masyarakat:

  • Gejala Obsesif
  1. Ketakutan akan kontaminasi kuman atau kotoran
  2. Keharusan akan kesimetrisan sesuatu atau ketepatan penataan
  3. Pikiran-pikiran seksual yang tidak diinginkan
  4. Keraguan akan sesuatu (pintu belum terkunci, kompor belum dimatikan, dll.)
  5. Pikiran-pikiran yang berbau religi dan moral yang berlebihan
  6. Ketakutan akan kehilangan sesuatu
  • Gejala Kompulsi
  1. Cuci tangan/baju berulang-ulang
  2. Mengatur sesuatu sampai terasa enak dilihat
  3. Melakukan kegiatan mengecek yang berulang (mengunci pintu, mengecek kompor)
  4. Menanyakan tentang keamanan berkali-kali
  5. Berdoa berulang-ulang
  6. Mengumpulkan benda-benda yang tidak berguna
OCD dapat disembuhkan dan sekitar 70% penderita yang menjalani terapi mengalami perbaikan. Terapi OCD mencakup terapi medis dan terapi perilaku. Segeralah merujuk ke psikiater jika anda atau orang terdekat anda mengalami OCD.
Tagged , , , , , ,

9 thoughts on “Obsessive-compulsive Disorder/ Gangguan Obesif-kompulsif

  1. anjani says:

    Persis saya om dokter. Bisa sembuhin ga? (˘̩̩̩̩˛˘̩ƪ)

  2. Doni says:

    saya suka melakukan hubungan sex dengan pacar saya, dan kebiasaan ini menjadi seuatu yang candu dan susah untuk menahannya. Dalam 1 hai apabila saya tidak melakukan sex akan menjadi resah,cemas, dan susah untuk tidur. Apakah ini merupakan tanda ocd ??

  3. Anthony W says:

    saya sering mengalami kecemasan berlebihan, seperti kalau keluar dari rumah , saya selalu periksa rumah, berkali-kali bahkan sampai berpuluh-puluh kali, sampai yakin rumah ditinggal dengan aman dan 1 lagi kecemasan saya bila bila membaca , melihat, mendengar , orang lain atau artikel di surat kabar papan reklame, tv , internet, atau bertemu langsung dengan seorang yg positiv HIV, kepala saya langsung sakit….dok, sakit kepalanya kadang-kadang bisa berminggu-minggu

    apakah saya kena OCD dok….?

    terimakasih

    • bisa saja gejala yang anda alami itu merupakan OCD. Ada baiknya anda konsultasi ke dokter ahli jiwa untuk mengetahui lebih lanjut tentang keadaan anda, terutama jika keadaan ini sangatlah mengganggu. Mengenai kecemasan terhadap HIV, kemungkinan itu adalah phobia, yaitu perasaan takut yang tidak wajar terhadap suatu hal. Phobia juga merupakan gangguan cemas, seperti halnya OCD, bisa jadi kedua keadaan yang anda alami ini memiliki kaitan.

      HIV sebenarnya tidaklah menakutkan seperti yang anda bayangkan. Virus ini hanya menular lewat kontak seksual dan darah. selama anda tidak mengalami kontak yang berisiko, anda tidak akan tertular. Selain itu virus HIV juga tidak tahan hidup lama di luar tubuh manusia.

  4. Anthony W says:

    terimakasih atas sarannya

    salam
    anthony

  5. tin says:

    yg mau sy tanyakan tanda2 ini mirip dg apa yg terjdi dg sy:
    -Keraguan akan sesuatu (pintu belum terkunci, kompor belum dimatikan, dll.)
    -Melakukan kegiatan mengecek yang berulang (mengunci pintu, mengecek kompor)
    -Pikiran-pikiran yang berbau religi dan moral yang berlebihan
    -Ketakutan akan kehilangan sesuatu
    apakah sy mengalami OCD dok?

    • Jangan takut dulu. Belum tentu anda mengalami OCD. Semakin anda takut atau khawatir akan kondisi tubuh/pikiran anda itu juga tidak baik bagi kesehatan anda, karena kesehatan jasmani dipengaruhi juga oleh kesehatan rohani. untuk lebih pastinya harus dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli kejiwaan. Mungkin sebaiknya anda melakukan konsultasi ke dokter spesialis jiwa terdekat.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: